Ternyata ‘walk of of fame’ ga cuma ada di Hollywood aja loh…di Ubud juga ada. Lokasi persisnya di belakang Puri Ubud *atau mungkin ada lagi yang lain?*, ada gang-gang kecil yang asik banget, bersih dan skalanya intimate. Yang paling eye catching jelas perkerasan jalannya. Sebetulnya sederhana banget, cuma modul-modul cetakan semen biasa dikombinasiin sama batu kali, tapi yang asik, masing-masing modul semen ada signature-nya. Continue reading ‘walk of fame a la rakyat’
Saya udah sempat cerita dikit kan waktu jalan-jalan ke Palembang, Maret lalu, saya menginap di salah satu rumah kayu tua khas Palembang ?
Ini dia cerita lengkapnya…
Excited banget deh begitu tau tempat menginap kita. Rumah kayu Yai *bahasa Palembang untuk kakek*-nya M’pri. Saya itu emang sukaaa bangeet sama bangunan-bangunan tua. Pastinya yang kualitas dan desainnya bagus la ya. Dan menarik banget untuk ngerasain sendiri rasanya tinggal di salah satu bangunan kaya gitu. Without considering the spooky issue ya…hihihi. Tapi bener deh, soalnya saya jadi bisa ngerasain langsung masalah apa sih yang biasanya ada di bangunan-bangunan tua itu. Apakah bangunan itu masih bisa menampung kebutuhan dan gaya hidup pemiliknya di masa kini? Terus, kalau emang harus dirombak, perubahan apa sih yang diperluin supaya keasliannya ga rusak tapi juga tetep nyaman untuk ditinggali ? Dan lain-lainnya…
Rumah Yai, berlokasi di jalan Kebun Duku Palembang, dibangun sekitar tahun 1932. Kata M’pri, terakhir dia ke Palembang, sembilan tahun yang lalu, hampir seluruh rumah-rumah di sepanjang jalan itu adalah rumah kayu antik. Sekarang, tinggal sisa dikiiiit banget. Bangunan yang lainnya udah berganti jadi bangunan baru, dan sayangnya, dengan kualitas yang lebih ehm..jelek.
Menyedihkan memang, apalagi kalau tahu cerita pembangunannya yang dongeng banget deh. Rumah Yai ini terbagi menjadi dua bagian. Yang pertama adalah bangunan utama yang berbentuk rumah panggung, dengan ruang-ruang utama, seperti ruang tamu, ruang keluarga utama, dan ruang tidur utama. Katanya dulu dibeli dengan harga 500 gulden. Pada suatu hari ada seseorang yang terlilit hutang ke salah satu bank Belanda. Karena tidak mampu melunasi hutangnya, asetnya, rumah kayu di Kayuagung (desa kecil sekitar 100 km dari Palembang), terpaksa harus disita oleh bank. Untuk membantu pria tersebut, kaket buyut M’pri menawarkan diri untuk membeli rumah tersebut. Dan terjualah rumah itu kepada kakek. Mengingat tanah kakek berada di Palembang, rumah kayu itu pun mau tidak mau harus dikirim. Untungnya bangunan tersebut adalah bangunan bongkar pasang. Tapi dengan cara apa? Untuk mengangkut sebuah rumah pada saat itu melewati jalan darat sangatlah tidak mungkin. Sejak dahulu hingga kini Sumatra Selatan terkenal dengan rampok dan premannya. Cara paling baik adalah dengan menghanyutkannya melalui sungai musi. Praktis, karena salah satu anak sungai Musi tepat melewati belakang tanah kakek.
Bagian yang kedua adalah pavilioun, rumah anak-anak dan ruang keluarga yang lebih informal. Lebih kecil, hangat dan….berantakan. Rumah yang kedua ini dibangun di tahun 1945. Dulunya ini adalah salah satu bagian rumah kakek di kampungnya, Baturaja, sekitar 200 km dari Palembang. Kayanya, kakek merasa rumah di kampungnya ini terlalu besar, sehingga dia memutuskan untuk mengirimkan sebagian rumahnya ke palembang. Caranya? Ya sama kaya yang pertama, berenang lewat sungai Musi. Jadi kedua bagian rumah ini berasal dari dua lokasi yang berbeda. Keren kan?
Rumah panggung ini ramah lingkungan loh, karena air bisa meresap dengan mudah ke dalam tanah. Terus, kolong bawahnya untuk apa? Dulunya sih kosong. Tapi karena kosong malah jadi banyak nyamuk, karena banyak nyamuk Yai membuat kolam ikan di bawah panggungnya ini. Masalah baru jadi muncul lagi karena kotoran ikan menyebarkan bau ke seluruh rumah. Untuk mengatasinya, ditebarlah arang sabut kelapa ke dalam kolam ini. Ajaib, baunya jadi hilang dan airnya jadi bersih. Konon kata Yai, saking bersihnya kita bisa cuci muka dengan menggunakan air ini. Saya sih ga nyoba..hehehe…agak-agak, gimanaa gitu…tapi lucu juga ya, saya jadi inget istana Nabi Sulaiman, kan di bawah lantainya ada kolam ikannya…hehehe.
Ruang tamunya ngegemesin deh…belum pernah saya melihat ruang tamu yang semungil ini dan senyaman ini. Ukurannya paling-paling Cuma 3×6 meter dan dibagi dua, tetapi bentuknya yang mengantong dan bukaan yang besar-besar membuat ruang tamu ini sangat nyaman. Langit-langitnya, seperti banyak bangunan tua lainnya, cukup tinggi. Mungkin sekitar 5 meter. Berbeda dengan ruang tamu, ruang keluarga utamanya cukup besar, dipenuhi dengan mebel-mebel antik yang bakal bikin para kolektor barang antic ngiler. Saya tahu tempat-tempat di Bali yang menjual barang-barang antic seperti ini. Harganya? WAW…bikin saya pengen ngerampok rumahnya Yai deh….hihihi. Piss Yai, becanda!Tapi bener loh, kata Yai, memang sudah banyak kolektor yang tertarik untuk ngeborong isi rumahnya. Jangan Yai, jangan dijual. Barang-barang ini paling pantes disimpan di rumah kayu tua itu.
Rumah-rumah tua biasanya identik dengan detailnya yang menarik.
Elemen-elemen kecil ini menjadi parameter yang menentukan akan tingginya kualitas sebuah karya desain. Di rumah ini, jelas detail-detail indah membuat kualitas arsitektur bangunan ini sangat baik. Banyak sekali detail-detail cantik yang menambah pebendaharaan desain saya. Setiap sambungan, teralis, ornamen, terlihat dipikirkan dengan seksama. Tren saat ini, terutama di Indonesia, dimana desain lebih mengarah ke gaya yang minimalis, membuat detail-detail seperti ini sangat jarang ditemukan di bangunan-bangunan yang baru. Yang menarik, detail-detail asik ga cuma ada di bangunan. Tapi juga di mebel-mebel antik kepunyaan Yai. Kaca patri penghias lemari misalnya, atau sambungan detail kursi. Cantik deh! Ga heran harganya sangat tinggi. Rasanya kaya masuk ke museum.
Sekarang saya khawatir akan nasib bangunan ini nanti-nantinya. Tau sendiri lah, di Indonesia, setiap bangunan tua ada dalam kondisi terancam. Apakah kalau kita balik lagi ke Palembang kita akan bisa menginap lagi di rumah kayu ini? Ga tau. Tapi saya berharap bangeeeet. Kebanyakan rumah-rumah seperti ini akhirnya dihancurkan, atau dipreteli dan dijual ke orang asing. Begitu juga dengan isinya. Dan akhirnya yang tersisa cuma rumah-rumah semen yang…yang…yang ga bisa dibanggakan. Karakter kota menjadi hilang, ga ada lagi jejak sejarah yang bisa ditelusuri dari arsitekturnya. Sedih ya…?. Semoga aja enggak. Semoga saya salah. Semoga…semoga…dan semoga lainnya.
Bulan Maret lalu saya dan m’pri jalan-jalan ke Palembang. Pertama, libur nyepi, dan Tahun ini kayanya kita ga pengen gelap-gelapan. Kedua (almarhum) bapaknya m’pri kan orang palembang, dan sejak nikah kita belum ngunjungin keluarga disana. Jadi sekalian silaturahmi lah.
Kalau denger Palembang, apa ya yang kebayang? Makanan enak pasti…*mpek mpek nyam nyam*, sungai musi, songket…arsitektur? Hmmm…kayanya engga deh. Coba deh jalan-jalan dulu ke Palembang. Kamu pasti surprise sama apa yang bakal kamu liat.
Walaupun reputasinya jelek karena tingkat kriminalitasnya yang tinggi, Palembang menyimpan aset yang berharga banget di bidang arsitektur. Asal kebudayaan yang
beragam campur-campur jadi satu dan membentuk gaya desain yang baru. Tau kan Admiral Zeng He atau Cheng Ho dari China? Kapal Admiral Cheng Ho pernah mendarat di Palembang sekitar tahun 1407-1409 dan menyumbangkan budaya China di Palembang. Masjid Agung Palembang dan Museum Sultan baharuddin, cuma dua contoh bangunan yang saya lihat yang mengadopsi elemen-elemen Cina.
Palembang dibagi oleh sungai musi. Setiap bagiannya dihubungkan oleh jembatan ampera yang dibangun tahun 1960 atas sumbangan pemerintah Jepang. Tapi jembatan ampera bukan sa
tu-satunya cara untuk menyeberangi sungai musi. Sungai ini tuh kaya jalan tol yang rame deh. Ada taxi air, getek, mau yang murah atau mahal, besar atau kecil, pilih aja! Bantaran sungainya juga hidup banget. Orang-orang membangun rumah dan perkampungan di sepanjang bantaran sungai. Rumahnya rumah kayu, panggung, desainnya otentik, bagus banget! Banyak orang bilang, ih itu mah daerah kumuh. Tapi menurutku sih engga. Perkampungan ini beda sama perkampungan kumuh di bantaran kali Ciliwung, Jakarta. Ya emang kotor sih, tapi berkarakter, dan mungkin karena kotornya itu keindahannya ga kelihatan oleh banyak orang.
Yang paling nyenengin waktu kita di palembang adalah waktu aku tau bakal tinggal di salah satu rumah kayu antik. Bukan yang di pinggir sungai sih. Agak ke kota dikit. Tapi aku ga bakal cerita lengkap sekarang. Nanti ya di posting berikutnya :).
Eniwei, kita cuma sempet tinggal di Palembang selama tiga hari dua malem tapi cukup untuk terkagum-kagum akan kota ini. Agak aneh juga saya ga pernah nemu literatur yang ngebahas banyak soal kota ini. Kalau kamu tau, kabar-kabarin ya…
Trus jadinya tiga hari dua malem sempet kemana aja? Ini nih ringkasan perjalanan kita:
Sampai palembang sekitar jam 17.00 ( terbangnya pake air asia). Jam segitu udah kemaleman untuk jalan-jalan keliling palembang. Inget kota ini GA AMAN. Lagian kita musti silaturahmi sama keluarga.
Hari kedua, kita memulai hari sekitar jam 6.30 pagi, jalan kaki ke Masjid Agung dan Jembatan Ampera. Waktu itu hari minggu, jadi agak ramai. Tapi tetep ati-ati deh sama barang bawaan. Kriminalitas disini katanya sih ga kebayang dengan kata-kata.
Pulang buat mandi dan sarapan. Pergi lagi sekitar jam 11, jalan kaki lagi tentunya ke museum Badaruddin *dimana kita ngeliat foto buyutnya m’pri dipajang di museum ini, hihihi* terus ke benteng kuto besar. Karena sesudahnya kita mau ngeliat Kampung Kapiten dan Kampung Arab yang ada di seberang Sungai Musi, jadi kita coba moda transportasi lain. Naik getek. Uhuy…seru deh…
Dan kita menghabiskan hari dengan keliling-keliling dari satu kampung ke kampung yang lain. Mengagumi keindahan rumah-rumah kayu tua asli palembang. Terlalu banyak yang harus dilihat dan dikunjungi. Kaki udah ga mampu jalan lagi, kamera udah ga mampu nampung foto lagi.
Tiga hari dua malem memang terlalu singkat untuk mengeksplorasi seluruh kota. Tapi suatu hari kita pasti balik lagi. Insha Allah.
Tunggu cerita-cerita Palembang lainnya ya…:)
Dari apartmenttherapy . Aktion plagiarius. Dulu saya pernah mengunjungi pamerannya di Ambiente, Frankfurt, Jerman sekitar tiga tahun yang lalu. Ini adalah pameran khusus, memamerkan desain-desain dari para desainer yang asli, disandingkan dengan peniru-penirunya. Seru deh! Tebak negara mana yang paling banyak jadi pemenang? Yak! Taiwan. Tapi kalau juri-jurinya pernah ke Indonesia sebelumnya, bisa jadi Indonesia jadi pemenang juga huehehe. Yang paling ngagetin, ternyata Calvin Klein ada di salah satu daftar plagiator juga, mengopi desain kacamata item dari salah satu desainer Eropa. Ck ck ck…
Sekarang ga usah nunggu lama-lama sampai Ambiente selanjutnya diadakan, semua koleksinya udah dikumpulkan di satu museum Plagiarism Museum di Solingen, Cologne. Jadi kalau ke Jerman, jangan lupa main kesini. Bawa oleh-olehnya ya…;)
Untuk artikel lengkap di AT silakan klik disini
Museum Photograph oleh Tomas Riehle diambil dari AT
Salah satu warisan dari para arsitek Belanda di kota Bandung yang paling menarik bagi pecinta arsitektur dan sejarah adalah Villa De Drieukleur- Villa Tiga Warna- yang berlokasi di pertemuan jalan Dago dan jalan Sultan Agung, Bandung. Dibangun di akhir tahun 30-an oleh arsitek berkebangsaan Belanda A.F Aalbers, bangunan ini telah berkali-kali berganti fungsi sebelum akhirnya ditinggalkan dan menjadi tak terawat.
Akhir Desember lalu, salah satu sahabat saya, Amel, tumben-tumbenan menelepon dan memberi tahu bahwa dia sedang mengerjakan proyek renovasi Villa Driekleur tersebut! Waaw!!! Dia juga mengundang saya untuk jalan-jalan ke proyeknya! Pastinya ga boleh ditolak doong…
Walaupun kecantikannya masih bertahan hingga saat ini, bangunan ini terlihat sangat ga terawat dan rusak disana-sini. Lantai dasar yang paling parah. Finishing lantai aslinya sudah hampir seluruhnya diganti oleh lantai keramik baru yang jelek banget! Kaca-kaca patri aslinya udah banyak yang hilang. Kolomnya juga banyak yang hilang…Haaa!!!Kolom ilang? Iya, entah bagaimana, salah seorang penghuni sebelumnya memotong kolom aslinya (atau mungkin dinding strukturnya?) sehingga balok dan plat lantai atas seluruhnya melendut! Kalau tidak ditangani cepat-cepat kayanya bangunan ini bisa runtuh setiap saat deh…mengerikan!
Yah, begitulah kurang lebih kondisinya 3 bulan yang lalu. Bulan Maret ini, lagi-lagi saya pulang kampung ke Bandung. Ketika melewati pertigaan jalan dago dan jalan sultan agung, bisa terlihat kalau Amel membuat kemajuan yang baik di proyeknya. Dengan baik hati sekali lagi Amel menawarkan saya untuk mengeksplorasi proyeknya. Terimakasih Amel!!!
Teman saya, Stephen DeMeulenaere, punya hobi mengkoleksi barang-barang khas dari berbagai Negara, khususnya Indonesia. Kamu mungkin ga pernah kepikiran sebelumnya untuk mengkoleksi spanduk kaki lima. Tapi Stephen seengganya punya empat spanduk itu, beberapa dia dapatkan waktu spanduk itu akan dibuang, dan beberapa lagi didapatkan sebagai hadiah dari temannya*tapi Stephen ga mau dikasih gratis dan akhirnya dia bayar Rp.50.000,00 untuk spanduk itu* Continue reading ‘Harta Karun Stephen’
Soup chat adalah pertemuan santai yang diselenggarakan di Bali, dimana orang-orang yang berjiwa kreatif dengan latar belakang karir yang berbeda bertemu dan berbagi pengalaman. Dengan menikmati sup sebagai pembuka, kita akan dihibur oleh berbagai presentasi dan diskusi santai mengenai bermacam-macam topik kreatif.
Ide menyelenggarakan Soup Chat ini pertama kali diusulkan oleh Cika, dan sampai sekarang, Soup Chat sudah diadakan sebanyak empat kali di berbagai tempat yang menarik. Tertarik untuk ikutan? Subscribe aja ke soup_chat@yahoogroups.com nanti kamu akan dapat informasi lebih lanjut kapan Soup Chat selanjutnya akan diadakan. Sampai ketemu!
pic by m’pri


